RESUME 4
PENGEMBANGAN
E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Pengertian e-learning pada umumnya
terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut
Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi
pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet,
intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif,
CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga
diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik
(LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama
proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM (Anderson, 2005).
Penerapan e-learning
yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke
dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi
melalui e-mail dan atau mailing list (milist).
Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi
dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi,
komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi
portal e-learning. Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada
pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang
ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan ada tiga jenis format
penerapan e-learning, yaitu:
1. Web Supported e-learning,
yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan
penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran,
materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2. Blended
or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran
dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3. Fully online e-learning
format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk
tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu
dengan menggunakan teleconference.
Keberhasilan
penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor
antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta
didik. E-learning sangat berbeda dengan pembelajaran secara
tradisional. Pada pembelajaran tradisional, peran pendidik masih cukup dominan,
sedangkan pada e-learning peserta pendidik harus mempunyai
kesadaran untuk belajar secara aktif dan mandiri. Nedelko (2008), menjelaskan
beberapa karakteristik peserta didik yang dapat mempengaruhi dari
keberhasilan e-learning:
1. Mempunyai pengetahuan
dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena e-learning didukung
oleh penggunaan komputer dan peralatan TIK.
2. Motivasi untuk
belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan dan
materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
3. Disiplin, peserta
didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan waktu dan
tempat untuk belajar.
4. Mandiri,
kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning,
karena tidak setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka.
Pembelajaran tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik
dengan pendidik, bukan sebagai transfer pengetahuan saja.
5. Mempunyai ketertarikan
terhadap e-literatur, karena hampir semua materi pembelajaran
disajikan secara online ataupun melalui media elektronik.
6. Dapat belajar secara
sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika belajar harus
secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
7. Mempunyai kemampuan
kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning hendaknya
mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini dapat untuk
mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan teman
sebayanya.
8. Mempunyai
kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah
secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.
Tidak
ada satupun model pembelajaran yang sempurna. Seperti halnya e-learning juga
mempunyai kelebihan dan kekurangan di dalam penerapannya. Kelebihan dari e-learning antara
lain:
1. Mengurangi
biaya, walaupun pada awal pemasangan infrastruktur e-learning yaitu
jaringan internet agak mahal, tetapi selanjutnya akan mengurangi biaya
akomodasi karena informasi didapatkan dari berbagai tempat tanpa harus datang
ketempat tersebut.
2. Pesan/
isi e-learning dapat tetap (konsisten), dan juga dapat
disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
3. Materi
pembelajaran lebih up to date dan dapat diandalkan. E-learning yang
berbasis internet (web) dapat memperbaharui materi secara cepat,
sehingga membuat informasi lebih akurat dan berguna untuk jangka waktu
tertentu.
4. Pembelajaran
24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Pendidik dan peserta didik dapat
mengakses kapan saja dan dimana saja.
5. Universal, setiap
orang dapat melihat atau menerima materi yang sama dan dengan cara yang sama.
6. Membangun
komunitas, e-learning memungkinkan peserta didik maupun
pendidik membangun sebuah komunitas yang berkelanjutan, untuk saling berbagi
pengetahuan selama dan setelah pembelajaran.
7. Daya tampung
yang besar, e-learning tidak hanya dapat menampung 10 sampai
100 partisipan, tetapi juga dapat menampung ribuan partisipan.
Adapun kelemahan e-learning dipandang
dari segi peserta didik antara lain:
1. Merasa
kesepian, peserta didik dapat merasa kesepian karena tidak adanya interaksi
fisik dengan pendidik dan teman-temannya, terutama untuk model fully
online e-learning format.
2. Keterampilan
menggunakan peralatan ICT, peserta pendidik yang tidak terampil menggunakan peralatan
ICT, akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi
hasil akhir pembelajaran.
3. Peserta didik yang
tidak disiplin dan kurang memilikii motivasi untuk belajar akan sulit mengikuti
tahap-tahap proses pembelajaran.
4. Ada beberapa
konsep-konsep pembelajaran yang sulit untuk dimodelkan atau dipelajari tanpa
bimbingan pendidik.
5. Adanya
permasalahan saat menentukan format evaluasi yang tepat berhasil atau tidaknya
peserta pendidik di dalam mengikuti pembelajaran secara e-learning.
IMPLEMENTASI E-LEARNING PADA
PEMBELAJARAN SAINS MENGGUNAKAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) DALAM
INOVASI PENDIDIKAN
Hasil
penelitian Setiawan (2014) tentangimplementasi e-learning menggunakan Technology
Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan
mempengaruhi penerimaan user (peserta didik atau guru) sebagai
berikut.
1. Pengguna
(peserta didik atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan
sistem e-learning tersebut dan manfaat menggunakannya, maka
akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan sistem e-learning.
Dari minat penggunaan tersebut maka para pengguna akan senantiasa secara nyata
menggunakan sistem e-learning sebagai sumber pembelajaran.
2. Keberadaan
pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar
pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut.
Lain halnya untuk pemahaman akan adanya kemudahan menggunakan sistem e-learning yang
sangat dipengaruhi oleh faktor luar bagi sistem e-learning tersebut
yakni kondisi dari perbedaan individu pengguna.
3. Bentuk model
penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang
diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan
kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam
penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi
komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar)
sebagai faktor laten luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk
dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam
pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran,
mempertinggi efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran,
meningkatkan hasil pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi
pembelajaran, dan memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU
(penambahan software/plugin pendukung, motivasi untuk tetap
menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna lain) dan ASU (lama
penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam pembelajaran) sebagai
faktor dalam atau faktor internal.
Agar
implementasi e-learning tidak dianggap hanya sekedar mengikuti
trend saja maka dalam pelaksanaannya harus diupayakan sedemikian rupa agar
dapat diperoleh manfaat yang optimal. Seperti halnya pembelajaran dengan cara
lain, e-learning dapat memberikan manfaat yang optimal jika
beberapa kondisi terpenuhi.
Sebelum
memutuskan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran melalui e-learning,
maka satu hal yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah apa yang menjadi
tujuan belajar yang akan kita capai. Berdasarkan inilah kita akan dapat memilih
topik, bahan-bahan belajar, lama belajar, biaya, dan sarana atau media
pembelajaran yang sesuai (dalam hal ini yang difokuskan adalah media
pembelajaran elektronik). Tujuan ini hendaknya bersifat spesifik dan terukur.
1. Peserta
didik
Cara belajar dengan e-learning memberikan
peluang untuk menjadi peserta didik yang bersifatindependen. Jadi, untuk
mendapatkan manfaat yang optimal dari e-learning, kita hendaknya
merasa senang dan termotivasi untuk belajar secara independen dan mengembangkan
sikap positif terhadap kegiatan pembelajaran dan perluasan wawasan. Artinya,
kita memliki motivasi untuk menguasai topik pelajaran, memperlakukan kegiatan
belajar bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas
diri, dan mampu menerapkan disiplin dalam kegiatan belajar.
2. Dukungan
Cara belajar melalui e-learning akan
lebih mudah jika mendapat dukungan dari orang-orang yang terkait dengan peserta
didik. Dengan dukungan dari berbagai pihak, semangat belajar yang terkadang
turun dapat tetap dipertahankan, bahkan dipacu lebih tinggi.
3. Media
lain
E-learning hanyalah
sebuah alat atau wahana yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Alat
atau wahana ini jika digunakan bersama alat-alat lainnya akan mempercepat dan
mempermudah pencapaian tujuan. Dengan demikian, e-learning tidak
harus sepenuhnya digunakan secara murni, tetapi bisa diintegrasikan dengan
penggunaan media lain sehingga saling menunjang meraih tujuan si pembelajar.
Penerapan
e-learning merupakan suatu kebutuhan pada proses pembelajaran, bukan hanya
sekedar mengikuti trend saja. E-learning adalah
salah satu cara berinovasi dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran
sains.
Agar
implementasi e-learning tidak dianggap hanya sekedar
mengikuti trend saja maka dalam pelaksanaannya harus
diupayakan sedemikian rupa agar dapat diperoleh manfaat yang optimal. Seperti
halnya pembelajaran dengan cara lain, e-learning dapat
memberikan manfaat yang optimal jika beberapa kondisi terpenuhi.
Kondisi-kondisi tersebut antara lain tujuan, peserta didik, dukungan, dan media
lain. Implementasi e-learning menggunakan Technology
Acceptance Model (TAM) di sekolah-sekolah perlu untuk dilakukan. Hasil
penelitian menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi
penerimaan user (peserta didik). Pengguna (peserta didik
atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan sistem e-learning tersebut
dan manfaat menggunakannya, maka akan mempunyai niat dan minat untuk
menggunakan sistem e-learning. Keberadaan pemahaman akan manfaat
penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar pengguna yakni organisasi
bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut.
Bentuk model penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang
diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan
kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam
penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi
komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar)
sebagai faktor luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk
dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam
pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran, mempertinggi
efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran, meningkatkan hasil
pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan
memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU (penambahan software/plugin pendukung,
motivasi untuk tetap menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna
lain) dan ASU (lama penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam
pembelajaran) sebagai faktor dalam atau faktor internal.
Semua
pendidik hendaknya bisa memanfaatkan sistem e-learning pada
proses pembelajarannya. Selain itu, peserta didik harus dapat menggunakan e-learning secara
cerdas dan bijak, yaitu bukan hanya sebagai alat hiburan semata tetapi juga
dapat digunakan sebagai alat pendukung proses pembelajaran. E-learning tidak
hanya mencakup suatu instruksi yang bersifat satu arah, tetapi menekankan
adanya komunikasi, khususnya antara pendidik dan peserta didik, pendidik dan
pendidik, serta antar sesama peserta didik. Untuk penyempurnaan kedepan agar
dihasilkan model sistem e-learning yang optimal dapat dilakukan beberapa hal
sebagai berikut.
1. Untuk
menciptakan e-learning yang memadai perlu ditunjang oleh
sarana dan infrastruktur yang memadai.
2. Agar
sistem e-learning dapat terjaga secara kontinu dan up
to date, perlu dipelihara oleh tim khusus untuk setiap sekolah.
3. Diperlukan
sosialisasi yang terus menerus dalam pengembangan e-learning untuk
mengubah mainset seluruh peserta didik, pendidik dan
tenaga kependidikan.
Untuk
dapat mengatasi berbagai kendala yang mungkin timbul dalam menerapkan e-learning,
perlu dipertimbangkan pemahaman yang utuh akan peran e-learning
bagi seluruh calon pengguna bahwa e-learning akan
dapat meningkatkan peran guru dalam melaksanakan proses tugas pelajaran dan hal
ini mungkin dapat menjadi resistensi bagi beberapa orang. Dipersiapkan
instruktur yang lebih banyak waktunya untuk memfasilitasi diskusi, menjawab
berbagai pertanyaan dan topik diskusi yang muncul.
DAFTAR
PUSTAKA
Anderson, B. (2005). “Strategic
e-learning implementation.” Educational Technology & Society, 8 (4), 1-8.
1. ISSN 1436-4522
Nedelko, Z. (2008). Participants’
Characteristics for E-Learning. http://www.g-cass.com. Diakses: 2 Maret 2016
Setiawan, W, dkk. (2014). Analisis
Penerapan Sistem E-Learning FPMIPA UPI Menggunakan Technology Acceptance Model
(TAM). Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 19, Nomor 1, April 2014, hlm. 128-140.
Silahudin. (2015). Penerapan E-LEARNING
dalam Inovasi Pendidikan. Jurnal Ilmiah CIRCUIT Vol. 1 No. 1 Juli 2015.
Surjono, H.D. (2007). Pengantar
E-learning dan Implementasinya di UNY. Makalah disampaikan pada Pelatihan
Pembelajaran online UNY. Juli. Yogyakarta.