Minggu, 12 Maret 2017

TUGAS TERSTRUKTUR PERTEMUAN KE-6 DAN KE-7


Tugas Terstruktur Tatap Muka Ke-6
Buatlah video pendek berdurasi 3 menit secara berkelompok tentang suatu percobaan kimia!
Jawab:
            Percobaan yang kami lakukan yaitu mengenai Reaksi Kimia. Pada reaksi kimia satu zat atau lebih dapat diubah menjadi zat baru. Dimana suatu reaksi kimia terjadi dengan ditandai terbentuknya endapan, terbentuknya gas, terjadinya perubahan warna dan terjadinya perubahan suhu.
 Sesuai dengan percobaan ini asam cuka (CH3COOH) direaksikan dengan soda kue (NaHCO3) menghasilkan gas CO2, berarti telah terjadi reaksi kimia yang mengakibatkan terbentuknya gas dengan cara perubahan kimia, karena menghasilkan jenis zat baru. Hal ini dibuktikan melalui percobaan ketika asam cuka dan soda kue dicampurkan dan terjadi buih, sehingga balon yang tadinya kecil menjadi besar, karena disebabkan gas CO2 dari hasil reaksi tersebut.
Campuran baking soda dengan cuka menghasilkan gelembung-gelembung gas. Gelembung-gelembung gas tersebut adalah gas karbondioksida. Campuran cuka dengan baking soda dapat dirumuskan sebagai berikut:
NaHCO3(s)  +  CH3COOH(aq)           CH3COONa(aq)    +  CO2(g)  + H2O(l)
Cuka merupakan asam sedangkan baking soda merupakan basa. Setelah keduanya dicampur, pH nya menjadi netral.
Hasil dari reaksi cuka dengan baking soda menghasilkan gas karbondioksida yang dapat mendorong gas oksigen diatasnya sehingga lama kelamaan balon yang tadinya kecil akan berubah menjadi lebih besar.
Reaksi yang terjadi antara cuka dengan baking soda merupakan reaksi endoterm, karena setelah cuka dan baking soda dicampurkan ke dalam botol, permukaan botol terasa dingin.
Tugas Terstruktur Tatap Muka Ke-7
Buatlah alat peraga sederhana dengan memanfaatkan bahan bekas untuk kegiatan pembelajaran kimia jenjang SMP!
Jawab:
            Alat peraga yang kami gunakan yaitu penyaring yang digunakan untuk pemisahan campuran dengan metode filtrasi. Adapun penyaring yang kami buat yaitu penyaring yang menggunakan bahan-bahan bekas yaitu: baju yang telah sobek (tidak layak pakai), kerikil, pasir dan botol bekas yang dirangkai menjadi suatu alat filtrasi. Alat peraga ini dapat diterapkan pada pembelajaran kimia jenjang SMP kelas 7. Berikut pemaparan materinya.
Pemisahan Campuran
A.     Pengertian Campuran
Sebelum berahli ke pengertian pemsahan campuran. Sebaiknya coba mengerti dulu dengan pengertian campuran. Campuran adalah merupakan gabungan antara dua jenis zat atau lebih yang dijadikan menjadi satu. Campuran memiliki dua jenis, yakni Campuran Heterogen dan Homogen.
Secara serdehana. Setelah mengerti pengertian Campuran. Maka Pemisahan Campuran dapat diartikan menjadi :
Pemisahan Campuran adalah proses memisahan antara dua jenis zat atau lebih agar zat-zat tersebut terpisah dan menjadi zat tunggal (satu, bukan menjadi satu) dengan melakukan tindakan secara fisika maupun kimia.
B.     Dasar-Dasar Pemisahan Campuran
Suatu campuran disusun oleh materi-materi yang memiliki sifat fisika dan sifat kimia yang berbeda. Berdasarkan perbedaan sifat-sifat materi yang menyusunnya, maka suatu campuran dapat dipisahkan dengan cara-cara tertentu. Beberapa hal yang menjadi dasar metode pemisahan campuran adalah ukuran partikel, titik didih, kelarutan, dan adsorbsi.
1.      Ukuran Partikel
Jika ukuran partikel zat yang akan dipisahkan berbeda ukuran dengan partikel zat pencampurnya, maka campuran tersebut dapat dipisahkan dengan cara filtrasi (penyaringan).
2.      Titik Didih
Jika zat yang akan dipisahkan memiliki perbedaan titik didih dengan zat pencampurnya, maka campuran tersebut dapat dipisahkan dengan metode distilasi. Pemisahan campuran dengan dasar perbedaan titik didih harus dilakukan dengan kontrol suhu yang ketat supaya tidak melewati titik didih zat yang akan dipisahkan.
3.      Kelarutan
Secara umum, pelarut dibedakan menjadi pelarut polar (air) dan pelarut nonpolar (alkohol, aseton, kloroform, eter). Berdasarkan perbedaan kelarutan zat-zat penyusun suatu campuran pada jenis pelarut tersebut, maka campuran dapat dipisahkan dengan cara ekstraksi.
4.      Adsorbsi
Adsorbsi adalah penarikan suatu zat oleh bahan pengadsorbsi secara kuat sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorbsi. Berdasarkan perbedaan daya adsorbsi, maka pemisahan campuran dapat dilakukan dengan cara adsorbsi.
C.   Jenis-jenis dan Dasar Pemisahan Campuran
1. Filtrasi (Penyaringan)
Teknik penyaringan ini berdasarkan pada perbedaan ukuran partikel, sehingga digunakan untuk memisahkan campuran yang ukuran partikel zat-zat penyusunnya berbeda. Hasil pemisahan zat dengan cara penyaringan ditentukan oleh :
a. tingkat kerapatan alat penyaring.
b. ukuran partikel zat yang disaring.
c. jenis zat yang disaring.
Prinsip dasar penyaringan banyak dimanfaatkan dalam kehidupan seharihari seperti pada penjernihan air kotor, industri kecap, industri tahu dan susu kedelai, industri sirop, industri tepung kanji, dan pemisahan antara gas oksigen dan nitrogen.
Berikut ini adalah salah satu bentuk alat penyaringan yang dapat digunakan untuk penjernihan air kotor sehingga air tersebut dapat digunakan untuk mencuci pakaian dan sebagainya. 
Gambar:
 Alat dan bahan yang digunakan untuk merangkai alat peraga:
 Proses filtrasi air yang bercampur pasir 
 Air yang bercampur dengan pasir

 Proses filtrasi yang sedang berlangsung

 Hasil yang didapatkan dari proses filtrasi
 
2. Distilasi (Penyulingan)
Prinsip distilasi adalah menguapkan suatu zat kemudian mengembunkan kembali. Distilasi dapat dilakukan karena adanya perbedaan titik didih antara zat-zat yang terkandung dalam larutan. Prinsip distilasi banyak dimanfaatkan dalam industri minyak, pembuatan air murni, pembuatan minyak kayu putih, dan minyak atsiri.

3. Evaporasi (Penguapan)
Dasar pemisahan dengan cara eva-porasi adalah perbedaan kemampuan menguap dari zat-zat dalam larutan. Kecepatan penguapan dipengaruhi oleh luas permukaan wadah. Semakin luas permukaan wadah maka semakin cepat penguapannya. Pemisahan zat dengan penguapan biasanya untuk mendapatkan zat padat yang larut dalam zat cair. Prinsip dasar pemisahan dengan cara penguapan ini dimanfaatkan petani garam. Mereka membendung air laut, kemudian menguapkannya dengan memanfaatkan panas cahaya mata-hari.
4. Sublimasi
Pemisahan zat dengan sublimasi adalah pemisahan zat dari campur-annya dengan cara memanaskan cam-puran sehingga zat yang diinginkan menyublim. Digunakan untuk memisahkan zat padat dalam zat padat. Contohnya pemisahan iodium dengan campurannya.
5. Kromatografi
Prinsip dasar kromatografi adalah memisahkan zat terlarut berdasarkan perbedaan kelarutannya dalam zat pelarut. Setiap zat kimia mempunyai kece-patan perambatan yang berbeda-beda pada kertas kromatografi sesuai sesuai kelarutannya dalam pelarut tertentu. Metode kromatografi ini sangat ber-guna untuk memisahkan dan meng-identifikasi zat-zat kimia dalam jum-lah sedikit. Misalnya zat pewarna ma-kanan, herbisida, dan pestisida yang terdapat dalam buah dan sayur.
6. Ekstraksi
Pemisahan dengan cara ekstraksi didasarkan pada perbedaan kelarutan zat dalam pelarut.
Ada dua jenis pelarut, yaitu :
a. Pelarut polar
Pelarut yang dapat larut atau bercampur dengan air.
Contoh : air dan alkohol
b. Pelarut non polar
Pelarut yang dapat larut atau bercampur dengan minyak atau lemak. Contoh : eter dan aseton.

Minggu, 05 Maret 2017

PRESENTASE E-LEARNING

QUIPPER SCHOOL
Adapun media yang kami gunakan quipper school, di mana menyediakan portal utuk guru dan siswa. untuk mendaftar sebagai murid dapat memasukkan pin 6FDDLRE
PORTAL GURU





PORTAL SISWA






Minggu, 26 Februari 2017

PRESENTASI MULTIMEDIA PEMBELAJARAN HASIL PENGEMBANGAN

PRESENTASI MULTIMEDIA PEMBELAJARAN HASIL PENGEMBANGAN

Multimedia digunakan sebagai media komunikasi yang efektif untuk   menyajikan materi pembelajaran  kepada peserta didik.
Multimedia presentasi digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang sifatnya teoretis, digunakan dalam pembelajaran klasikal dengan group belajar yang cukup banyak di atas 50 orang. Media ini cukup efektif sebab menggunakan multimedia projector yang memiliki jangkauan pancar cukup besar. Kelebihan media ini adalah menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, image, grafik dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa.
dikemas dalam bentuk multimedia yang dinamis dan sangat menarik. Perkembangan perangkat lunak tersebut didukung oleh perkembangan sejumlah  perangkat keras penunjangnya. Salah satu produk yang paling banyak memberikan pengaruh dalam penyajian bahan presentasi digital saat ini adalah perkembangan monitor, kartu video, kartu audio serta perkembangan proyektor digital (digital image projector) yang memungkinkan bahan presentasi dapat disajikan secara digital untuk bermacam-macam  kepentingan dalam berbagai kondisi dan situasi, serta ukuran ruang dan  berbagai karakteristik audience.
Pengolahan bahan presentasi dengan menggunakan komputer tidak hanya untuk dipresentasikan dengan menggunakan alat presentasi digital dalam bentuk Multimedia projector(seperti LCD, In-Focus dan sejenisnya), melainkan juga dapat dipresentasikan melalui peralatan proyeksi lainnya, seperti over head projector (OHP) dan film slides projector yang sudah lebih dahulu diproduksi. Sehingga lembaga atau instansi yang belum memiliki perangkat alat presentasi digital akan tetapi telah memiliki kedua alat tersebut, dapat memanfaatkan pengolahan bahan presentasi melalui komputer secara maksimal.

Berikut ini merupakan demonstrasi sebuah Media pembelajaran  ciri reaksireaksi kimia melalui video

untuk selengkapnya bisa di lihat di sini

Minggu, 19 Februari 2017

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

RESUME 4

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Pengertian e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM (Anderson, 2005).

Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:

1. Web Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2.  Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3.  Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.

Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik. E-learning sangat berbeda dengan pembelajaran secara tradisional. Pada pembelajaran tradisional, peran pendidik masih cukup dominan, sedangkan pada e-learning peserta pendidik harus mempunyai kesadaran untuk belajar secara aktif dan mandiri. Nedelko (2008), menjelaskan beberapa karakteristik peserta didik yang dapat mempengaruhi dari keberhasilan e-learning:

1. Mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena e-learning didukung oleh penggunaan komputer dan peralatan TIK.
2.  Motivasi untuk belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan dan materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
3.  Disiplin, peserta didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan waktu dan tempat untuk belajar.
4.  Mandiri, kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning, karena tidak setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka. Pembelajaran tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik dengan pendidik, bukan sebagai transfer pengetahuan saja.
5.  Mempunyai ketertarikan terhadap e-literatur, karena hampir semua materi pembelajaran disajikan secara online ataupun melalui media elektronik.
6.  Dapat belajar secara sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika belajar harus secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
7. Mempunyai kemampuan kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning hendaknya mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini dapat untuk mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan teman sebayanya.
8.  Mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.

Tidak ada satupun model pembelajaran yang sempurna. Seperti halnya e-learning juga mempunyai kelebihan dan kekurangan di dalam penerapannya. Kelebihan dari e-learning antara lain:
1. Mengurangi biaya, walaupun pada awal pemasangan infrastruktur e-learning yaitu jaringan internet agak mahal, tetapi selanjutnya akan mengurangi biaya akomodasi karena informasi didapatkan dari berbagai tempat tanpa harus datang ketempat tersebut.
2.  Pesan/ isi e-learning dapat tetap (konsisten), dan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
3.  Materi pembelajaran lebih up to date dan dapat diandalkan. E-learning yang berbasis internet (web) dapat memperbaharui materi secara cepat, sehingga membuat informasi lebih akurat dan berguna untuk jangka waktu tertentu.
4.   Pembelajaran 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Pendidik dan peserta didik dapat mengakses kapan saja dan dimana saja.
5.  Universal, setiap orang dapat melihat atau menerima materi yang sama dan dengan cara yang sama.
6.   Membangun komunitas, e-learning memungkinkan peserta didik maupun pendidik membangun sebuah komunitas yang berkelanjutan, untuk saling berbagi pengetahuan selama dan setelah pembelajaran.
7.  Daya tampung yang besar, e-learning tidak hanya dapat menampung 10 sampai 100 partisipan, tetapi juga dapat menampung ribuan partisipan.

Adapun kelemahan e-learning dipandang dari segi peserta didik antara lain:
1.   Merasa kesepian, peserta didik dapat merasa kesepian karena tidak adanya interaksi fisik dengan pendidik dan teman-temannya, terutama untuk model fully online e-learning format.
2.  Keterampilan menggunakan peralatan ICT, peserta pendidik yang tidak terampil menggunakan peralatan ICT, akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi hasil akhir pembelajaran.
3.  Peserta didik yang tidak disiplin dan kurang memilikii motivasi untuk belajar akan sulit mengikuti tahap-tahap proses pembelajaran.
4.  Ada beberapa konsep-konsep pembelajaran yang sulit untuk dimodelkan atau dipelajari tanpa bimbingan pendidik.
5.   Adanya permasalahan saat menentukan format evaluasi yang tepat berhasil atau tidaknya peserta pendidik di dalam mengikuti pembelajaran secara e-learning.

IMPLEMENTASI E-LEARNING PADA PEMBELAJARAN SAINS MENGGUNAKAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) DALAM INOVASI PENDIDIKAN

Hasil penelitian Setiawan (2014) tentangimplementasi e-learning menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi penerimaan user (peserta didik atau guru) sebagai berikut.

1.    Pengguna (peserta didik atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan sistem e-learning tersebut dan manfaat menggunakannya, maka akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan sistem e-learning. Dari minat penggunaan tersebut maka para pengguna akan senantiasa secara nyata menggunakan sistem e-learning sebagai sumber pembelajaran.
2.    Keberadaan pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut. Lain halnya untuk pemahaman akan adanya kemudahan menggunakan sistem e-learning yang sangat dipengaruhi oleh faktor luar bagi sistem e-learning tersebut yakni kondisi dari perbedaan individu pengguna.
3.    Bentuk model penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar) sebagai faktor laten luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran, mempertinggi efektifitas  pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran, meningkatkan hasil pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU (penambahan software/plugin pendukung, motivasi untuk tetap menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna lain) dan ASU (lama penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam pembelajaran) sebagai faktor dalam atau faktor internal.

Agar implementasi e-learning tidak dianggap hanya sekedar mengikuti trend saja maka dalam pelaksanaannya harus diupayakan sedemikian rupa agar dapat diperoleh manfaat yang optimal. Seperti halnya pembelajaran dengan cara lain, e-learning dapat memberikan manfaat yang optimal jika beberapa kondisi terpenuhi.

Sebelum memutuskan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran melalui e-learning, maka satu hal yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah apa yang menjadi tujuan belajar yang akan kita capai. Berdasarkan inilah kita akan dapat memilih topik, bahan-bahan belajar, lama belajar, biaya, dan sarana atau media pembelajaran yang sesuai (dalam hal ini yang difokuskan adalah media pembelajaran elektronik). Tujuan ini hendaknya bersifat spesifik dan terukur.

1.         Peserta didik
Cara belajar dengan e-learning memberikan peluang untuk menjadi peserta didik yang bersifatindependen. Jadi, untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari e-learning, kita hendaknya merasa senang dan termotivasi untuk belajar secara independen dan mengembangkan sikap positif terhadap kegiatan pembelajaran dan perluasan wawasan. Artinya, kita memliki motivasi untuk menguasai topik pelajaran, memperlakukan kegiatan belajar bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas diri, dan mampu menerapkan disiplin dalam kegiatan belajar.
2.         Dukungan
Cara belajar melalui e-learning akan lebih mudah jika mendapat dukungan dari orang-orang yang terkait dengan peserta didik. Dengan dukungan dari berbagai pihak, semangat belajar yang terkadang turun dapat tetap dipertahankan, bahkan dipacu lebih tinggi.
3.         Media lain
E-learning hanyalah sebuah alat atau wahana yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Alat atau wahana ini jika digunakan bersama alat-alat lainnya akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan. Dengan demikian, e-learning tidak harus sepenuhnya digunakan secara murni, tetapi bisa diintegrasikan dengan penggunaan media lain sehingga saling menunjang meraih tujuan si pembelajar.

Penerapan e-learning merupakan suatu kebutuhan pada proses pembelajaran, bukan hanya sekedar mengikuti trend saja. E-learning adalah salah satu cara berinovasi dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran sains.

Agar implementasi e-learning tidak dianggap hanya sekedar mengikuti trend saja maka dalam pelaksanaannya harus diupayakan sedemikian rupa agar dapat diperoleh manfaat yang optimal. Seperti halnya pembelajaran dengan cara lain, e-learning dapat memberikan manfaat yang optimal jika beberapa kondisi terpenuhi. Kondisi-kondisi tersebut antara lain tujuan, peserta didik, dukungan, dan media lain. Implementasi e-learning menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) di sekolah-sekolah perlu untuk dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi  penerimaan  user (peserta didik). Pengguna (peserta didik atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan sistem e-learning tersebut dan manfaat menggunakannya, maka akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan sistem e-learning. Keberadaan pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut. Bentuk model penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar) sebagai faktor luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran, mempertinggi efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran, meningkatkan hasil pencapaian  pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU (penambahan software/plugin pendukung, motivasi untuk tetap menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna lain) dan ASU (lama penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam pembelajaran) sebagai faktor dalam atau faktor internal.

Semua pendidik hendaknya bisa memanfaatkan sistem e-learning pada proses pembelajarannya. Selain itu, peserta didik harus dapat menggunakan e-learning secara cerdas dan bijak, yaitu bukan hanya sebagai alat hiburan semata tetapi juga dapat digunakan sebagai alat pendukung proses pembelajaran. E-learning tidak hanya mencakup suatu instruksi yang bersifat satu arah, tetapi menekankan adanya komunikasi, khususnya antara pendidik dan peserta didik, pendidik dan pendidik, serta antar sesama peserta didik. Untuk penyempurnaan kedepan agar dihasilkan model sistem e-learning yang optimal dapat dilakukan beberapa hal sebagai berikut.
1.    Untuk menciptakan e-learning yang memadai perlu ditunjang oleh sarana dan infrastruktur yang memadai.
2.     Agar sistem e-learning dapat terjaga secara kontinu dan up to date, perlu dipelihara oleh tim khusus untuk setiap sekolah.
3.   Diperlukan sosialisasi yang terus menerus dalam pengembangan e-learning untuk mengubah mainset seluruh  peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.

Untuk dapat mengatasi berbagai kendala yang mungkin timbul dalam menerapkan e-learning, perlu dipertimbangkan pemahaman yang utuh akan peran e-learning  bagi  seluruh  calon pengguna bahwa e-learning akan dapat meningkatkan peran guru dalam melaksanakan proses tugas pelajaran dan hal ini mungkin dapat menjadi resistensi bagi beberapa orang. Dipersiapkan instruktur yang lebih banyak waktunya untuk memfasilitasi diskusi, menjawab berbagai pertanyaan dan topik diskusi yang muncul.


DAFTAR PUSTAKA

Anderson, B. (2005). “Strategic e-learning implementation.” Educational Technology & Society, 8 (4), 1-8. 1. ISSN 1436-4522

Nedelko, Z. (2008). Participants’ Characteristics for E-Learning. http://www.g-cass.com. Diakses: 2 Maret 2016

Setiawan, W, dkk. (2014). Analisis Penerapan Sistem E-Learning FPMIPA UPI Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM). Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 19, Nomor 1, April 2014, hlm. 128-140.

Silahudin. (2015). Penerapan E-LEARNING dalam Inovasi Pendidikan. Jurnal Ilmiah CIRCUIT Vol. 1 No. 1 Juli 2015.

Surjono, H.D. (2007). Pengantar E-learning dan Implementasinya di UNY. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pembelajaran online UNY. Juli. Yogyakarta.





Minggu, 12 Februari 2017

TUGAS TERSTRUKTUR

A.                 TUGAS TERSTRUKTUR

TUGAS TATAP MUKA KE-2 DAN KE-3

A. Pertanyaan

1.Menurut cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia?

2.Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran  kimia?

B. Jawaban :

1.               Ada tiga asumsi yang mendasari teori kogitif tentang multimedia learning, yakni: dual-channel (saluran ganda), limited-capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing (pemrosesan-aktif). Asumsi-asumsi dirangkum dalam figur 1.1


Asumsi
Deskripsi
Kutipan terkait
Saluran-ganda
Menusia memiliki saluran terpisah untuk memproses informasi visual dan informasi auditori
Paivio, 1968; Baddeley, 1992
Kapasitas-terbatas
Manusia punya keterbatasan dalam jumlah informasi yang bisa mereka proses dalam masing-masing saluran pada waktu yang sama
Baddeley, 1992;Chandler & Sweller, 1991
Pemrosesan-aktif
Manusia melakukan pembelajaran aktif dengan memilih informasi masuk yang relevan, mengorganisasikan informasi-informasi itu ke dalam representasi mental yang koheren, dan memadukan representasi mental itu dengan pengetahuan lain
Mayer, 1999; Wittrock, 1989
·         Dual Channel
Sistem kognitif manusia terdiri dari dua saluran berbeda untuk mewakili  dan memanipulasi  pengetahuan, yaitu 1) visual-pictorial channel dan auditory-verbal channel (Baddeley,1986, 1999; Paivio, 1986). Gambar memasuki sistem kognitif melalui mata dan dapat diproses sebagai pictorial representations pada visual-pictorial channel. Kata-kata lisan memasuki sistem kognitif melalui telinga dan dapat diproses sebagai verbal representations pada auditory-verbal channel.

·         Limited Capacity

Setiap saluran pada sistem kognitif manusia memiliki keterbatasan kapasitas untuk memegang dan memanipulasi pengetahuan (Baddeley, 1986, 1999; Sweller, 1999). Ketika banyak gambar (atau bahan-bahan visual lainya) disajikan pada saat bersamaan, saluran visual-pictorial bisa menjadi overload. Ketika banyak kata-kata lisan (dan sounds lainnya) disajikan pada saat bersamaan, saluran auditory-verbal bisa menjadi overload.

·         Active Processing

Pembelajaran bermakna (meaningful learning) terjadi ketika pebelajar terlibat dalam pengolahan aktif pada saluran, termasuk memilih kata-kata dan gambar yang relevan, mengorganisasikan kata-kata dan gambar ke dalam model pictorial dan verbal yang koheren, dan mengintegrasikan kata-kata dan gambar satu sama lain dengan pengetahuan awal (prior knowledge) yang sesuai (Mayer, 1999, 2001; Wittrock, 1989). Proses pembelajaran aktif tersebut lebih memungkinkan terjadi ketika corresponding verbal and pictorial representations berada pada memori kerja pada waktu yang sama.

CTML menerima model bahwa terdapat tiga struktur penyimpanan yang dikenal sebagai sensory memory, working memory, dan long-term memory. Sweller (2005 dalam Sorden, 2005) mendefinisikan sensory memory sebagai struktur kognitif yang memungkinkan kita untuk melihat informasi baru, working memory sebagai struktur kognitif dimana kita secara sadar memproses informasi, dan long-term memory sebagai stuktur kognitif yang menyimpan basis pengetahuan kita. Mayer (2005a dalam Sorden, 2005) menyatakan bahwa sensory memory memiliki 1) visual sensory memory yang secara singkat memegang gambar-gambar dan printed text sebagai gambar visual (visual images); dan 2) auditory memory yang secara singkat memegang kata-kata lisan (spoken words) dan suara (sounds) sebagai auditory images.

 Schnotz (2005 dalam Sorden, 2005) mengacu kepada sensory memory sebagai sensory registers atau sensory channels menunjukkan bahwa meskipun kita cenderung untuk melihat dua saluran sensoris yaitu mata untuk memori kerja visual dan telinga untuk memori kerja auditory, bahwa adalah mungkin ada saluran sensori lainnya untuk memperkenalkan informasi ke memori kerja seperti “membaca” dengan jari melalui huruf braile atau orang tuli dapat “mendengar” dengan membaca bibir. Memori kerja hadir untuk menseleksi informasi dari sensory memory untuk pengolahan dan pengintegrasian.

2.                  Theory Dual coding yang dikemukakan alan paivio ( paivio, 1971-2006 ) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua chanel , yaitu chanel verbal seperti teks dan suara, dan chenel visual ( non verbal image) seperti diagram , gambar, dan animasi. Kedua chenel ini dapat berfungdi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan ( sadoski,paivio,goeks 1991).
Channel verbal memproses informasi secara berurutan sedangakan chenel non verbal memproses informasi secara bersamaan ( singkron/paralel). Contohnya informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata – kata atau verbal dan ilustrasi yang relevan memiliki kecendrungan lebih mudah diperlajari  dan dipahami dari pada infooormasi yang menggnakan teks saja, suara saja, perpaduan tek dan suara saja , atau ilustrasi saja.
Theory dual coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari chenel verbal dan non verbal (najar,1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua chenel pemprosesan informasi (verbal Dan non verbal ) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama , yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.